Kisah Sukses Tiga Toko Oleh-Oleh Pekanbaru, Berawal dari Usaha Kecil hingga Raup Omzet Ratusan Juta Rupiah
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengungkap kisah inspiratif di balik kesuksesan tiga toko oleh-oleh ternama di Pekanbaru, yakni Nadhira, Insyira, dan Viera. Ketiga pelaku usaha tersebut memiliki perjalanan yang hampir serupa, dimulai dari usaha sederhana hingga berkembang menjadi bisnis besar yang mampu menggerakkan perekonomian daerah.
Wali Kota Agung, Jumat (12/6/2026), mengatakan, para pendiri ketiga usaha tersebut dulunya berada dalam satu kelompok usaha yang sama. Salah satunya adalah Rahmat, warga Jalan Uka, yang bersama istrinya, Bunda Evi, mengembangkan usaha kue talam ketan durian yang kini dikenal luas masyarakat.
Awalnya, Rahmat memutuskan berhenti dari profesinya sebagai dosen untuk fokus menekuni usaha bersama sang istri. Pasangan tersebut memulai bisnis dengan berjualan menggunakan mobil keliling, sekaligus memasarkan berbagai produk UMKM lainnya. Dari usaha sederhana itulah lahir toko oleh-oleh Viera.
“Dulu memulai usaha dari rumah di Jalan Uka. Sekarang sudah memiliki rumah sendiri dan empat cabang toko oleh-oleh dengan omzet yang luar biasa,” ujar Agung.
Kisah sukses serupa juga dialami pemilik toko oleh-oleh Nadhira Napoleon. Pada masa awal merintis usaha, pengusaha Nadhira menjual berbagai makanan khas Medan di Pekanbaru. Produk-produk tersebut dibeli langsung dari Medan untuk dipasarkan kembali kepada masyarakat Pekanbaru, termasuk kue talam ketan durian.
"Perkembangan usaha Nadhira sangat pesat hingga mampu melakukan investasi besar. Berdasarkan data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), usaha tersebut bahkan telah membeli lahan bernilai puluhan miliar rupiah di Jalan Jenderal Sudirman," ungkap Agung.
Sementara itu, toko oleh-oleh Insyira memulai perjalanan bisnisnya dengan modal yang jauh lebih kecil, yakni hanya Rp3 juta. Saat itu, sang istri membuat kue talam ketan durian. Sedangkan suaminya bertugas mengantarkan pesanan kepada pelanggan.
Keuntungan yang diperoleh pun sangat minim. Bahkan, biaya jasa pengantaran hanya sekitar Rp10 ribu per transaksi dan keuntungan dari produk lainnya berkisar Rp3 ribu.
Berkat ketekunan dan ketelitian dalam mengelola usaha, bisnis tersebut terus berkembang. Insyira kemudian menjadi wadah bagi berbagai produk makanan UMKM lokal dan berhasil memperluas usahanya.
“Sekarang, mereka mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp500 juta per hari. Bahkan, mereka juga telah membeli lahan di Jalan Arifin Ahmad,” sebut Agung.
Keberhasilan ketiga toko oleh-oleh tersebut dinilai menjadi bukti nyata. Bahwa, usaha kecil dapat berkembang menjadi bisnis besar apabila dikelola dengan konsisten dan inovatif.
Ia berharap akan muncul pelaku usaha baru yang mampu mengikuti jejak kesuksesan Nadhira, Insyira, dan Viera. Yang menarik, ketiga usaha tersebut tidak terjebak dalam persaingan yang tidak sehat.
Masing-masing memiliki ciri khas, produk unggulan, dan pangsa pasar tersendiri. Sehingga, ketiga usaha ini dapat tumbuh bersama.
“Ini adalah kisah nyata. Mereka pernah berada dalam satu kelompok usaha. Kemudian, berkembang dan membuka usaha masing-masing. Namun, mereka tetap memiliki pasar dan keunggulan sendiri-sendiri,” sebut Agung.
Keberadaan toko oleh-oleh tersebut memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat. Di bawah naungan ketiga usaha itu, terdapat lebih dari 250 pelaku UMKM yang bergantung pada pemasaran produk di tiga toko oleh-oleh ini.
Jika digabungkan, sedikitnya sekitar 750 pelaku UMKM memperoleh manfaat ekonomi dari jaringan usaha tersebut. Berbagai produk lokal, mulai dari kerupuk kulit patin, hingga aneka makanan khas lainnya, turut dipasarkan melalui toko-toko oleh-oleh tersebut.
"Karena itu, kami mendorong penguatan usaha oleh-oleh daerah sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat sekaligus sarana promosi produk unggulan Kota Pekanbaru," pungkas Agung.