DPR RI Minta Bangunan Cagar Budaya Tangsi Belanda di Siak Dipugar

2 Februari 2026
Bangunan Cagar Budaya Tangsi Belanda di Siak

Bangunan Cagar Budaya Tangsi Belanda di Siak

RIAU1.COM - Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief menyatakan bahwa Bangunan Cagar Budaya Tangsi Belanda kawasan Istana Siak, Provinsi Riau, khususnya lantai dua yang ambruk dan mengakibatkan belasan siswa mengalami luka-luka harus dipugar.

Hendry Munief mengaku usai kejadian pada Sabtu (31/1), pihaknya langsung menghubungi Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana. Dia meminta agar Kawasan Istana Siak segera dipugar dan ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

"Kita langsung berkoordinasi dan menginformasikan ke ibu Menteri Pariwisata atas kejadian di Tangsi Belanda kawasan Istana Siak. Alhamdulillah respons beliau cepat dan bagus. Beliau segera berkoordinasi dengan Kementerian Kebudayaan," kata Hendry Munief, Senin (2/2).

Dia menjelaskan beberapa fasilitas dan objek di Kawasan Istana Siak sudah tidak layak dan membahayakan pengunjung. Oleh karena itu, dia minta segera menetapkan Istana Siak sebagai KSPN, sehingga bisa diperbaiki.

Namun demikian, Hendry Munief tetap mempertanyakan penyebab ambruknya di titik yang direnovasi tahun 2018. Saat itu dianggarkan Rp5,2 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Tapi, baru 7 tahun fasilitas tersebut sudah ambruk. Ini perlu ditelusuri. Ini juga catatan dari kita ke Kementerian Kebudayaan agar ditelusuri dan dijadikan pelajaran, jangan sampai terulang kembali," katanya.

Insiden ambruknya lantai 2 Bangunan Cagar Budaya Tangsi Belanda pada Sabtu (31/1), menyebabkan 17 orang mengalami luka-luka terdiri atas 15 siswa-siswi SD IT Baitul Ridho Kampung Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak serta satu orang guru, dan seorang pemandu wisata setempat.

Kejadian yang berlangsung cepat ini mengejutkan rombongan besar yang sedang asyik mempelajari sejarah bangunan peninggalan kolonial tersebut. Material lantai yang terbuat dari papan kayu tua diduga sudah dalam kondisi lapuk dan tidak mampu menahan beban rombongan yang berkumpul di satu titik.

"Terkait insiden, kami turut berduka atas kejadian yang menimpa pengunjung yang kebanyakan adalah anak-anak sekolah. Mudah-mudahan anak-anak tidak trauma berkunjung ke wisata budaya lagi," tuturnya.*