Pejabat Pessel Sebut Harga Sawit Terjun Bebas Akibat Kebijakan Pusat

27 Mei 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Masyarakat, khususnya petani kelapa sawit di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat (Sumbar) menjerit. Gara-garanya, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit anjlok.

Sebelumnya TBS kelapa sawit di daerah itu sempat bertahan di angka Rp2.000 per kilogram, kini tiba-tiba terjun bebas hingga menyentuh angka Rp700 per kilogram di tingkat petani.

Tentu saja, anjloknya harga TBS kelapa sawit ini membuat resah, khususnya petani sawit swadaya yang saat ini juga dihadapkan pada tingginya biaya produksi dan kebutuhan hidup.

Sebagaimana dimuat di situs resmi Pemkab Pessel, Endi, petani kelapa sawit di Kecamatan Lengayang, mengungkapkan bahwa penurunan harga terjadi secara tiba-tiba sejak akhir pekan lalu. Sehingga, kata dia, petani seperti dia dan yang lainnya kebingungan. Soalnya selisih harga terlalu jauh dalam waktu singkat.

“Sebelumnya masih Rp2.000 per kilogram. Kini turun hingga Rp700 per kilogram,” kata Endi, dikutip Padangkita, Selasa (26/5/2026).

Menurut dia, para pengepul sempat menyebut kelangkaan solar menjadi salah satu penyebab tersendatnya operasional pengangkutan sawit sehingga berdampak terhadap harga jual di tingkat petani.

“Penyebab pastinya tidak jelas. Toke menyebut karena kelangkaan solar,” kata dia.

Keluhan juga disampaikan Linda, petani kelapa sawit di Kecamatan Sutera. Ia menilai harga kelapa sawit saat ini tidak lagi sebanding dengan biaya perawatan kebun yang terus membengkak.

“(Pupuk) NPK saja Rp800 ribu per karung, sementara harga kelapa sawit cuma Rp700 per kilogram,” ia mengeluh.

Linda berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga TBS kelapa sawit kembali naik dan stabil, sehingga petani tidak terus mengalami kerugian.

“Kami berharap pemerintah segera bertindak. Jangan dibiarkan lama-lama, sementara kebutuhan pokok semuanya mahal,” katanya.

Terkait Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Yul Afrizal, mengatakan bahwa anjloknya harga TBS kelapa sawit bukan hanya terjadi di Pessel, melainkan hampir di seluruh daerah penghasil kelapa sawit.

Menurut dia, kondisi berkaitan dengan kebijakan baru pemerintah pusat terkait tata kelola ekspor dan impor crude palm oil (CPO) yang nantinya akan dikelola melalui satu pintu oleh Danantara.

Yul menjelaskan, selama ini perusahaan-perusahaan kelapa sawit bebas melakukan ekspor melalui berbagai jalur dan perusahaan besar. Namun ke depan, sistem tersebut akan diatur melalui mekanisme terpusat.

“Ini memang kebijakan pemerintah pusat. Nantinya ekspor CPO dikelola satu pintu oleh Danantara. Kalau sekarang perusahaan masih sendiri-sendiri melakukan penjualan ke luar,” ujarnya.

Yul menegaskan, kondisi tersebut masih dalam tahap penyesuaian sehingga berdampak terhadap harga sawit di tingkat bawah.

“Dewan Akasindo pusat menyampaikan kondisi ini hanya sementara. Dalam waktu dekat harga diperkirakan akan kembali stabil bahkan bisa lebih tinggi dari harga biasanya,” katanya.

Yul juga membantah anggapan bahwa turunnya harga kelapa sawit dipicu kelangkaan solar yang terjadi di sejumlah daerah.

“Tidak ada pengaruhnya dengan solar. Ini murni karena kebijakan tata kelola sawit yang baru,” tegasnya.

Ia memastikan petani sawit swadaya di Pesisir Selatan (Pessel) nantinya tetap dapat menjual hasil panen mereka ke perusahaan-perusahaan yang ada di daerah. Perbedaannya hanya pada mekanisme ekspor CPO yang akan dikendalikan melalui Danantara.

“Petani tetap menjual seperti biasa ke perusahaan. Perusahaan mengolah menjadi CPO, lalu CPO dijual ke Danantara untuk ekspor. Jadi sistem di tingkat petani tidak berubah,” jelasnya.

Baca juga: Pessel Butuh Penambahan Areal Peremajaan Kelapa Sawit

Yul berharap kebijakan baru tersebut nantinya justru mampu memperkuat posisi sawit nasional dan berdampak positif terhadap harga jual di tingkat petani.

“Mudahan-mudahan setelah kebijakan ini berjalan, harga sawit di Pesisir Selatan bisa lebih tinggi dari harga biasanya,” pungkasnya.*