Berikut Prediksi Harga Emas Pekan Depan

12 Juli 2026
Ilustrasi/net

Ilustrasi/net

RIAU1.COM - Harga emas atau logam mulia masih terus berfluktuasi di bawah level Rp 3 juta per gram, selama lebih dari tiga bulan terakhir. 

Pada pekan depan, harga komoditas safe haven tersebut diperkirakan bergerak di kisaran Rp 2,57—Rp 2,8 juta per gram. Sementara itu, harga minyak dunia diprediksi berada di sekitar 62,30—82,20 dolar AS per barel, seiring dengan eskalasi konflik geopolitik. 

Harga emas dunia pada akhir pekan ini tercatat ditutup di level 4.119 dolar AS per troy ons. Adapun harga logam mulia berada di posisi Rp 2,65 juta per gram.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, pada pekan depan, jika harga emas mengalami koreksi, level support pertama yakni sebesar 4.023 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia sebesar Rp 2,64 juta per gram. Apabila melanjutkan koreksi, level support kedua harga emas yakni 3.906 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia sebesar Rp 2,57 juta per gram. 

Sementara itu, jika harga emas mengalami kenaikan, level resisten pertama diprediksi di level 4.214 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia sebesar Rp 2,68 juta per gram. Apabila melanjutkan penguatan, harga emas dunia diprediksi mencapai 4.348 dolar AS per troy ons, dan harga logam mulia di level Rp 2,8 juta per gram. 

“Jadi, dalam sepekan, emas dunia kemungkinan ditransaksikan di support-nya 3.906 dolar AS per troy ons, dan resisten tertingginya di 4.348 dolar AS per troy ons. Untuk logam mulianya sendiri, kemungkinan ditransaksikan di support Rp 2,57 juta per gram, kemudian resistennya di Rp 2,8 juta per gram,” terangnya. 

Seiring dengan prediksi pergerakan harga emas, harga komoditas minyak dunia, untuk WTI crude oil, dalam sepekan ke depan kemungkinan diperdagangan di kisaran 62,30—82,20 dolar AS per barel. “Ada kemungkinan besar (harga minyak) turun, tetapi akan menguat tajam,” ungkapnya. 

Sementara itu, indeks dolar AS dalam sepekan ke depan kemungkinan akan mengalami penguatan. Ibrahim memprediksi indeks dolar AS akan diperdagangkan di kisaran 99,90—102,30. 

Untuk rupiah sendiri, Ibrahim memproyeksikan Mata Uang Garuda bergerak di kisaran Rp 17.870—Rp 18.300-an per dolar AS pada pekan depan. Pelemahan rupiah, kata dia, nantinya akan memengaruhi penguatan harga emas atau logam mulia. 

Empat Faktor Utama 

Ibrahim mengungkapkan ada empat faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga beberapa komoditas tersebut, baik emas, minyak mentah, indeks dolar AS, maupun rupiah. 

“Ada beberapa faktor yang memengaruhi fluktuasi, yang pertama adalah faktor geopolitik, kedua faktor perpolitikan di AS, ketiga adalah kebijakan Bank Sentral AS, kemudian yang terakhir adalah supply and demand,” ujarnya. 

Mengenai permasalahan geopolitik, terutama konflik yang terjadi di Timur Tengah antara AS vs Iran. AS diketahui melakukan penyerangan terhadap target-target di Iran pada saat libur nasional pemakaman pemimpin Iran, Ayatullah Khomeini. Lalu, Iran melakukan serangan balik. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz tanpa batas waktu yang ditentukan. 

“Secara resmi di hari Minggu ini Selat Hormuz di Timur Tengah ditutup total. Sehingga ini akan berpengaruh terhadap transportasi minyak pada hari Senin,” ujarnya. 

Selain konflik di Timur Tengah, eskalasi konflik di Eropa Timur antara Rusia vs Ukraina juga masih bergulir. Kedua negara tersebut saling menyerang secara sporadic. Ukraina dikabarkan terus melakukan penyeranga terhadap instalasi minyak di Rusia, sehingga membuat produksi minyak di Rusia mengalami penurunan. Dampaknya, kata Ibrahim, akan memberi penguatan terhadap harga minyak mentah. 

Sementara itu, Rusia melakukan penyerangan terhadap infrastruktur-infrastuktur di Ibu Kota Ukraina, Kyiv. Penyerangan ini juga kemungkinan besar membuat persoalan yang berdampak pada terkereknya harga minyak mentah, dan membuat dolar AS akan terus mengalami penguatan. 

Faktor utama kedua yakni mengenai perpolitikan di AS. Saat ini, Paman Sam sedang sibuk persiapan pemilu sela, yang mana Partai Republik (partai Donald Trump) kemungkinan besar akan dikalahkan oleh Partai Demokrat. Isu utamanya adalah tentang harga-harga pangan di AS yang relatif tinggi, terutama harga gasoline, sehingga berpengaruh terhadap terkereknya inflasi.

“Dengan adanya penutupan Selat Hormuz, kemudian harga minyak naik, harga-harga di AS jadi naik, ini pun kemugkinan besar akan dimanfaatkan oleh Partai Demokrat untuk kampanye-kampanye tentang harga-harga yang relatif lebih tinggi. Sehingga kemungkinan Partai Republik akan kalah pada pemilu sela di bulan November,” jelasnya.  

Faktor ketiga yaitu kebijakan suku bunga Bank Sentral AS. Bank Sentral AS berjanji akan melakukan stabilitas harga, dan siap bertindah tegas untuk menekan ekspektasi inflasi jangka panjang. 

“Artinya apa? Dengan adanya penutupan Selat Hormuz, yang tadinya harga minyak melandai, kemungkinan besar harga minyak naik, berarti ada kemungkinan besar Bank Sentral AS akan tetap menaikkan suku bunga,” ujarnya. 

Ibrahim menuturkan, pada pekan depan, pasar akan menunggu rilis beberapa data ekonomi. Data inflasi AS (CPI) periode Juni 2026 dijadwalkan akan rilis pada 14 Juli 2026 mendatang. 

Faktor terakhir adalah mengenai supply and demand (penawaran dan permintaan). Ibrahim menerangkan, permintaan emas oleh Bank Sentral Global pada bulan Juni 2026 cukup tinggi. Sebab, itu menjadi momentum untuk meraup manfaat dari terjadinya koreksi pada harga emas. 

“Pada saat harga emas mengalami penurunan, terjadi koreksi, banyak Bank Sentral Global memanfaatkan untuk menambah cadangan devisanya,” kata dia. 

Hal ini sesuai dengan laporan Survei Cadangan Emas Bank Sentra 2026, yang dilakukan oleh World Gold Council (WGC) yang menyatakan, 45 persen Bank Sentral Dunia berencana terus menambah cadangan emas mereka. 

Bank Sental China diketahui mencetak rekor pembelian emas bulanan tertinggi sepanjang 2026, yakni sebanyak 15 ton pada bulan Juni 2026. Bank Kemudian, Sentral Polandia dalam semester I 2026 tercatat membukukan cadangan emas sebanyak 82 ton. 

“Tujuan utama dari Bank Sentral Global menborong logam mulia adalah untuk diversifikasi aset, juga untuk menghindari ketergantungan pada dolar AS, dan sebagai aset aman yang kinerjanya terbukti pada saat krisis ekonomi, harga emas adalah di atas harga inflasi,” tutupnya.*