Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Aksi mogok berjualan pedagang daging sapi di Jabodetabek diperkirakan berdampak luas, terutama bagi sekitar 20.000 pedagang bakso. Para pedagang bakso terancam kesulitan mendapatkan bahan baku utama, sehingga berpotensi kehilangan pendapatan secara signifikan.
“Jika aksi mogok ini berlangsung selama tiga hari, potensi kerugian perputaran uang bisnis bakso bisa mencapai Rp 20 miliar per hari,” ujar Ketua Umum Persatuan Pedagang Mie dan Bakso Indonesia (Papmiso) Indonesia, Bambang Hariyanto, di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Rabu (21/1/2026) yang dimuat
Beritasatu.com.
Papmiso Indonesia juga mengingatkan kembali komitmen pemerintah untuk membenahi tata kelola niaga daging sapi. Termasuk, menjaga stabilitas harga agar pedagang bakso dapat memperoleh bahan baku dengan harga terjangkau serta meningkatkan kesejahteraan mereka.
Untuk itu, Papmiso Indonesia mendesak pemerintah segera mengambil langkah responsif dan preventif. Langkah intervensi itu dibutuhkan guna mencegah meluasnya aksi mogok jualan pedagang daging di wilayah Jabodetabek.
“Kami berharap pemerintah segera membenahi tata kelola niaga daging sapi dan menjaga stabilitas harga. Sehingga masyarakat kecil tetap mampu membeli daging sapi dengan harga terjangkau,” ujar Bambang.
Ketua APDI Kabupaten Bekasi Sadimin menyebut aksi mogok berjualan dilakukan sesuai arahan pengurus pusat. Para pedagang daging sapi di Jakarta dan Bekasi akan berhenti berjualan selama tiga hari.
"Iya aksi mogok tidak berjualan gitu, untuk Jakarta dan Bekasi selama tiga apa dua hari tidak berjualan agar pemerintah mengetahui gitu pak, bisa lebih mungkin pak kalau tidak ada terobosan dari pemerintah, infonya begtu." ujar Sadimin.
Menurutnya, harga sapi hidup saat ini sudah cukup tinggi, yakni berkisar Rp 55.000 per kilogram. Kondisi tersebut berpengaruh langsung pada harga jual daging sapi di tingkat pedagang eceran yang mencapai di atas Rp 150.000 per kilogram.*