Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) menawarkan sejumlah keuntungan, mulai dari fleksibilitas hingga waktu perjalanan yang lebih singkat. Namun, bagi pekerja yang tinggal sendiri, minimnya interaksi sosial selama bekerja dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya tekanan mental dan rasa terisolasi.
Temuan tersebut berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science. Peneliti menganalisis data survei nasional selama lebih dari satu dekade dan membandingkan kondisi pekerja pada pekerjaan yang memungkinkan dilakukan dari jarak jauh dengan pekerja pada pekerjaan yang mengharuskan kehadiran secara langsung.
Pekerja yang tinggal sendiri dan memiliki pekerjaan yang memungkinkan dilakukan secara jarak jauh dilaporkan mengalami tekanan mental serta isolasi sosial yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang pekerjaannya mengharuskan hadir secara langsung.
Penelitian juga menemukan pekerja dalam kelompok tersebut menghabiskan sekitar 25 persen hari tanpa kontak sosial. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan pekerja pada pekerjaan yang tidak memungkinkan dilakukan secara jarak jauh.
Psikolog organisasi sekaligus pendiri Institute for Life at Work, Dr Constance Noonan Hadley, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan kondisi tersebut tidak otomatis berarti bekerja dari kantor merupakan solusi. Menurut dia, kehadiran di kantor tidak selalu menjamin seseorang memperoleh interaksi sosial yang bermakna.
"Ketika pergi ke kantor, bukan berarti seseorang otomatis berada dalam lingkungan yang bermakna dan memenuhi kebutuhan sosial," ujar Hadley, dikutip dari CNN, Rabu (16/9/2026).
Ia mengatakan upaya mengatasi kesepian dan isolasi sebaiknya dimulai dengan memperbanyak waktu di lingkungan tempat seseorang merasa dihargai dan dipahami. Lingkungan tersebut dapat berada di kantor maupun di tempat lain.
Di Amerika Serikat, bekerja secara jarak jauh masih menjadi pilihan banyak pekerja. Berdasarkan survei Gallup pada November, 61 persen pekerja AS yang pekerjaannya memungkinkan dilakukan dari jarak jauh memilih sistem kerja hibrida, 33 persen memilih sepenuhnya bekerja dari jarak jauh, sementara enam persen memilih bekerja dari kantor.
Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi salah satu alasan utama pekerja menyukai sistem kerja hibrida. Sejumlah penelitian lain juga menemukan bahwa kerja jarak jauh dapat meningkatkan produktivitas.
Penelitian dalam Frontiers in Psychology yang diterbitkan pada Juli juga menunjukkan hasil berbeda. Dalam survei terhadap sekitar 7.700 pekerja sektor kesehatan, pekerja jarak jauh melaporkan tingkat kesejahteraan positif paling tinggi dibandingkan pekerja dengan sistem hibrida maupun yang sepenuhnya bekerja di lokasi.
Karena itu, para ahli mengingatkan bahwa dampak kerja jarak jauh terhadap kesehatan mental tidak dapat dilepaskan dari kondisi dan lingkungan masing-masing pekerja.
Psikolog dari Tampa Florida, Tammy Allen, yang meneliti kerja jarak jauh, fleksibilitas kerja dan kesehatan pekerja, mengatakan berada di kantor juga tidak otomatis membuat seseorang memiliki hubungan sosial yang positif. "Anda tidak bisa berasumsi bahwa seseorang berada di kantor berarti mereka benar-benar berinteraksi dengan manusia lain," kata Allen.
Hadley menyarankan pekerja jarak jauh yang menghabiskan banyak waktu sendirian untuk secara aktif menambahkan interaksi sosial dalam rutinitas harian. Interaksi sederhana, seperti berbincang dengan barista atau menyapa orang lain, dapat membantu membangun rasa memiliki.
Menurut penelitian Hadley, tempat yang dinilai paling memenuhi kebutuhan sosial bagi sebagian responden justru bukan rumah atau kantor, melainkan third space atau ruang ketiga, seperti kedai kopi dan ruang kerja bersama. Di tempat tersebut, seseorang dapat menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan atau persaingan langsung dengan rekan kerja.
Bagi perusahaan, Hadley menilai dukungan terhadap interaksi sosial juga dapat dilakukan melalui program mentoring, kelompok sosial, maupun kegiatan yang memang diminati pekerja. Sementara bagi pekerja yang tinggal sendiri dan bekerja secara jarak jauh, keseimbangan menjadi hal penting. Menyediakan waktu untuk bertemu pasangan, keluarga, teman, atau beraktivitas di ruang publik dapat menjadi cara untuk menjaga koneksi sosial di tengah rutinitas WFH.*
