Ilustrasi/net
RIAU1.COM - Orang yang mengonsumsi air minum kemasan botol plastik secara rutin bisa menelan lebih dari 90.000 partikel mikroplastik setiap tahunnya. Angka ini disebut jauh lebih banyak dibanding orang yang minum air keran, yang hanya menelan 4.000 mikroplastik per tahun. Hal ini terungkap dari tinjauan penelitian terbaru dari Universitas Concordia, Kanada.
Dalam tinjauan yang dipublikasikan di Journal of Hazardous Materials, ditemukan rata-rata orang menelan 39.000 hingga 52.000 partikel mikroplastik dalam setahun, dengan ukuran berkisar antara seperseribu milimeter hingga lima milimeter. Botol plastik diketahui melepaskan partikel mikroplastik selama proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, serta akibat paparan sinar matahari dan fluktuasi suhu, dilansir Beritasatu.com dari The Independent, Ahad (4/1/2026).
“Minum air dari botol plastik tidak masalah dalam keadaan darurat, tetapi itu bukanlah sesuatu yang seharusnya digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Sarah Sajedi, penulis utama dalam ulasan yang diterbitkan Journal of Hazardous Materials tersebut.
Ahli memperingatkan, konsekuensi kesehatan dari menelan mikroplastik tersebut dapat sangat parah. Mikroplastik yang tertelan dapat masuk ke aliran darah dan mencapai organ vital yang memicu peradangan kronis, masalah pernapasan, stres, gangguan hormonal, masalah reproduksi, kerusakan neurologis, hingga berbagai jenis kanker.
Meski demikian, efek jangka panjangnya masih belum sepenuhnya dipahami karena belum ada metode pengujian standar yang bisa menilai dampaknya dalam jaringan tubuh.
Para peneliti menekankan, meskipun teknologi deteksi saat ini mampu menemukan partikel yang sangat kecil, alat-alat tersebut belum bisa mengungkapkan komposisi partikel secara akurat, sehingga partikel terkecil cenderung terlewat. Oleh karena itu, mereka menyerukan pengembangan metode pengujian global yang terstandarisasi untuk mengukur partikel plastik dengan akurat.
Penelitian ini juga menekankan perlunya transisi dari kemasan botol plastik sekali pakai ke solusi akses air minum yang berkelanjutan dan jangka panjang.*