Siap Hadapi Kudeta Dukungan AS, Presiden Venezuela Terima Bantuan Perangkat Militer Rusia
Ilustrasi pesawat tempur.
RIAU1.COM - Politik di Venezuela memanas setelah Kudeta Juan Guaido dukungan AS.
Juan Guaido pun mendeklarasikan diri sebagai Presiden sementara.
Namun Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak terima dan akan menghancurkan pengkudeta.
Maduro menerima bantuan peralatan militer canggih dari Rusia melawan musuhnya.
Dia pun menyaksikan parade perangkat keras buatan Rusia yang dimiliki tentara negara itu pada Ahad, dengan peluru anti-pesawat dan tank menghujani sasaran di satu sisi bukit.
Seperti dikutip Riau1.com dari Antaranews.com, Senin, 28 Januari 2019 ,Kegiatan tersebut bertujuan untuk menunjukkan kekuatan dan kesetiaan militer menghadapi ancaman internasional yang menyerukan pemilihan baru.
Maduro, 56 tahun, menghadapi tantangan yang tak terduga terhadap otoritasnya setelah pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden sementara mengutip pemilihan presiden yang penuh kecurangan.
Guaido telah menerima dukungan internasional dan menawarkan amnesti kepada prajurit yang bergabung dengannya. Pada Ahad, Israel bergabung bersama dengan negara-negara untuk mendukung pemimpin yang berusia 35 tahun itu.
Pada Ahad pagi, Maduro, yang disertai Menteri Pertahanan Vladimir Padrino, menyaksikan satu peleton tentara menembakkan granat berpelundur roket, tembakan antipesawat dari senjata mesin, dan sejumlah tank menembak sasaran-sasaran di bukit tersebut di pangakalan kendaraan lapis baja Fort of Paramacay.
Maduro mengatakan peragaan itu menunjukkan kepada dunia bahwa ia memperoleh dukungan dari militer, dan angkatan bersenjata Venezuela siap membela negara. Maduro mengatakan Guaido ikut serta dalam kudeta yang diarahkan oleh para penasehat kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk venteran Perang Dingin John Bolton dan Elliott Abrams.
"Tak ada yang menghormati yang lemah, pengecut, pengkhianat. Di dunia yang dihormati ialah pemberani, teguh hati dan kekuatan." kata Maduro sementara debu menyelimuti pangkalan itu.
"Tidak ada bahkan yang berpikir untuk menginjak tanah suci ini. Venezuela inginkan perdamaian...dan untuk menjamin perdamaian, kami sudah siap," katanya. Mulai 10 hingga 15 Februari, militer akan mengadakan latihan lebih besar yang Maduro lukiskan sebagai "paling penting dalam sejarah Venezuela."
Unjuk kekuatan itu disertai kampanye penyiaran oleh pemerintah di jejaring dalam dengan slogan "Selalu setia, Tidak Pernah Pengkhianat," dan menyusul pembelotan oleh diplomat militer tinggi Venezuela di Amerika Serikat pada Sabtu.
Fort of Paramacay, yang terletak di sebelah barat Karakas, ibu kota Venezuela, dan dapat ditempuh dua jam dengan berkendaraan, merupakan tempat pergolakan pada 2017, ketika sekelompok sekitar 20 prajurit dan warga sipil bersenjata menyerang pangkalan itu. Pemimpin serangan tersebut, yang dengan cepat dipadamkam, mengatakan ia menyerukan pemerintahan peralihan.
Maduro pada Ahad mengecam persekongkolan yang bertujuan menyebar-luaskan pemberontakan di dalam tubuh tentara, dengan menyatakan ribuan pesan dikirim ke para tentara setiap hari melalau fasilitas Whatsapp dan berbagai platform media sosial lain dari negara tetangga, Kolombia. Ia kemudian berlari dan mengunjungi pangkalan angkatan laut.
Guaido juga mengirim pesan ke militer pada Ahad, meminta dukungan mereka dan memerintahkan agar jangan menekan warga sipil dalam satu acara yang para pendukungnya menyerahkan fotokopi lembaran pengampunan bagi orang-orang yang dituduh terlibat kejahatan dalam pemerintahan Maduro.
"Saya perintahkan Anda jangan menembak," katanya. "Saya perintahkan Abda jangan menakn rakyat.
R1/Hee