Ilustrasi/Net
RIAU1.COM - Sebuah terobosan dalam upaya penyembuhan total HIV-1 kembali mencuri perhatian dunia medis. Para peneliti berhasil menunjukkan bahwa kombinasi terapi obat jangka panjang (LA-ART) dan teknologi edit gen CRISPR-Cas9 mampu menghapus jejak virus pada sebagian subjek uji coba. Namun, sebuah tantangan besar muncul: virus masih ditemukan kembali (rebound) pada lebih dari separuh subjek lainnya.
Penelitian ini memfokuskan perhatian pada "sidik jari" molekuler dari virus yang berhasil lolos dari pengobatan ganda tersebut. Menggunakan tikus yang dimanusiakan (humanized mice), tim ahli mencoba membedah mengapa HIV-1 masih bisa bertahan meskipun sudah "ditembak" dengan obat-obatan dan "digunting" DNA-nya.
Dalam laporannya yang dikutip Nature, Senin (13/4/2026), peneliti menjelaskan bahwa mereka menggunakan metode Next-Generation Sequencing (NGS) yang sangat sensitif untuk mendeteksi varian virus terkecil sekalipun. Hasilnya mengejutkan, di mana virus yang muncul kembali ternyata bukan karena mutasi akibat salah potong oleh CRISPR, melainkan karena kemampuan evolusi alami virus terhadap obat-obatan.
Jurnal tersebut mencatat di mana tanda molekuler virus menunjukkan percepatan pelarian resistensi obat HIV-1 dari ART, bukan dari pembentukan mutan CRISPR. “Ini membuktikan bahwa HIV-1 memiliki kecerdasan biologis untuk bermutasi lebih cepat guna menghindari efek obat kimia yang diberikan,” tulis Nature yang dimuat Beritasatu.com.
Salah satu poin penting dalam studi ini adalah pembuktian bahwa teknologi CRISPR-Cas9 bekerja dengan sangat spesifik. Peneliti tidak menemukan kerusakan genetik yang tidak diinginkan pada area yang ditargetkan. Hal ini memberikan angin segar bagi keamanan penggunaan teknologi edit gen di masa depan.
"Data tersebut menggarisbawahi peran terbatas dari eksisi CRISPR dalam menghasilkan mutan HIV-1 yang muncul kembali," tulis para peneliti dalam kesimpulan mereka.
Status Siaga Level III, Gunung Merapi Masih Semburkan 36 Guguran Lava
Hal ini berarti teknologi "gunting genetik" tetap menjadi kandidat kuat untuk terapi penyembuhan, selama tantangan resistensi obat bisa diatasi. Studi ini juga menekankan bahwa untuk benar-benar melenyapkan HIV dari tubuh, para ilmuwan tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis senjata.
Evolusi virus pada gen env (selubung virus) yang sangat beragam menunjukkan betapa dinamisnya HIV dalam menghadapi tekanan pengobatan. Dengan hasil ini, fokus penelitian selanjutnya kemungkinan besar akan diarahkan pada penguatan rejimen obat jangka panjang agar tidak memberi celah bagi virus untuk bermutasi, sembari terus menyempurnakan kemampuan CRISPR dalam menghapus sisa-sisa DNA virus yang bersembunyi di dalam sel tubuh manusia.
"Dunia medis kini semakin memahami bahwa perjalanan menuju "penyembuhan total" HIV bukanlah lari cepat, melainkan maraton yang membutuhkan presisi teknologi dan ketangguhan pengobatan kimia sekaligus," jelas Nature.*