Jumat, 24 Januari 2020

POLITIK

Bukti Politik Itu Kejam Era Orde Lama - Orde Baru

news24xx


Ilustrasi [Foto: Istimewa/internet] Ilustrasi [Foto: Istimewa/internet]

RIAU1.COM - Kalimat 'politik itu kejam' yang keluar dari mulut Sandiaga Uno saat memberikan kuliah umum di Universitas Bakrieyang, Kamis, 09 Mei 2019 tak perlu diragukan kebenarannya.

Masih jelas di ingatan akibat kondisi politik, TNI yang saat itu masih bernama ABRI harus 'menghabisi adik kandung' sendiri dinukil dari merdeka.com, Kamis, 12 Desember 2019.

Baca Juga: Akhirnya, OSO Tunjuk Gede Pasek Sebagai Sekjen DPP Partai Hanura

www.jualbuy.com

Terutama setelah Orde Lama runtuh lalu digantikan Orde Baru. Era Sukarno, Indonesia jor-joran mendukung perlawanan rakyat Serawak dan Kalimantan Utara memerangi Malaysia dan Inggris.

Namun, zaman Suharto justru kebalikannya. Pemerintah yang sempat melatih komandan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) Bong Kee Chok dan adiknya, Bong Hon oleh Badan Pusat Intelijen, RPKAD, Marinir, Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara dan Mobile Brigade Polri tahun 1964-1965 serta turut menyuplai senjata untuk Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU), menurunkan pasukan elite ABRI sebagai sukarelawan dan bergabung dengan TNKU untuk bertempur melawan pasukan komando Inggris di belantara Kalimantan malah berbalik memerangi muridnya sendiri.

Perubahan kondisi politik ini lantaran dianggap telah disusupi oleh komunis. Membuat Pemerintah Indonesia saat itu menghentikan dukungan pada PGRS dan TNKU. Bahkan meminta gerilyawan PGRS meletakkan senjata dan menghentikan perlawanan.

Akibat politik juga, kemudian ABRI kembali diturunkan ke lokasi yang sama namun dengan misi yang berbeda. Mereka harus menghabisi 'adik kandung' sendiri. Membuat alat negara melaksanakan tugas dengan beban mental yang sangat berat.

Baca Juga: Hidayat Nur Wahid Komentari Ditolaknya Laporan Dugaan Korupsi Anies Baswedan

Iklan Riau1

Setelah tahu harus 'saling membunuh', para anggota PGRS, TNKU, ABRI dan Polri itu banyak yang menangis tersedu-sedu dan saling berangkulan sebelum mereka menyatakan perpisahan. 

Kondisi ini diceritakan ulang melalui pengalaman tempur Jenderal (Purn) Abdullah Makhmud Hendropriyono sebagai perwira pertama Pusat Pasukan Khusus TNI AD di Kalimantan Utara lewat bukunya Operasi Sandi Yudha, Menumpas Gerakan Klandestin, Penerbit Buku Kompas.





Loading...