Perjalanan Panjang SLB Santa Lusia, Wujud Kasih bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Pekanbaru

12 Januari 2026
Ketua Panitia Pembangunan SLB Santa Lusia Cindy Anggraini. Foto: Surya/Riau1.

Ketua Panitia Pembangunan SLB Santa Lusia Cindy Anggraini. Foto: Surya/Riau1.

RIAU1.COM -Berdirinya Sekolah Luar Biasa (SLB) Santa Lusia bukanlah hasil dari perjalanan singkat. Melainkan, SLB ini buah dari kepedulian mendalam dan pengabdian panjang terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di Kota Pekanbaru. 

Hal tersebut disampaikan Ketua Panitia Pembangunan SLB Santa Lusia, Cindy Anggraini, dalam sambutannya pada acara peresmian gedung sekolah tersebut di Jalan Umbar Sari Atas, Kecamatan Rumbai, Sabtu (10/1/2026).

"Cikal bakal pendirian SLB Santa Lusia berawal dari keprihatinan mendiang Uskup Martinus Dogma Situmorang, yang didukung mendiang Romo Anton Konseng. Keduanya melihat kenyataan bahwa jumlah keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan spektrum autisme, terus meningkat dan membutuhkan pendampingan serta kasih sayang yang tepat," katanya.

Pada saat itu, Pekanbaru belum banyak sekolah yang mampu menampung dan melayani anak-anak dengan kebutuhan khusus secara layak. Atas dasar keprihatinan tersebut, sejak tahun 2012, Uskup Martinus Dogma Situmorang mengundang Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia (KSFL) untuk membuka pelayanan pendidikan SLB di Pekanbaru. 

Pelayanan tersebut dijalankan dengan penuh dedikasi meskipun dalam keterbatasan, termasuk menempati rumah sewa di Kecamatan Rumbai Timur. Seiring berjalannya waktu, tumbuh kesadaran dan kerinduan bersama bahwa anak-anak istimewa tersebut layak memiliki rumah belajar yang permanen dan bermartabat. 

"Namun, keterbatasan dana menjadi tantangan utama. Hal ini mengingat gereja maupun yayasan tidak memiliki anggaran khusus untuk pembangunan gedung sekolah," ungkap Cindy.

Pada tahun 2019, atas amanah mendiang Uskup Martinus Dogma Situmorang, dibentuklah panitia pembangunan gedung SLB Santa Lusia untuk memulai proses pembangunan secara mandiri. Pembangunan sekolah ini bukan sekadar proyek fisik. Melainkan, pembangunan sekolah ini perwujudan kasih dan harapan bagi masa depan anak-anak berkebutuhan khusus.

“Kami menyadari bahwa yang dibangun bukan hanya gedung, melainkan harapan, cinta, dan masa depan bagi anak-anak istimewa ini,” tutur Cindy.

Pembangunan SLB Santa Lusia dapat terwujud berkat dukungan berbagai pihak, di antaranya Uskup Keuskupan Padang Vitus, bantuan dari Vatikan Roma, Yayasan Prayoga, para pastor, serta para donatur yang dengan tulus menyumbangkan rezeki, tenaga, doa, dan perhatian. Dana pembangunan dihimpun secara bertahap melalui donasi, dengan semangat kebersamaan, kepercayaan, dan penyelenggaraan Tuhan. Proses pembangunan juga melibatkan seluruh panitia yang bekerja dengan penuh dedikasi, mulai dari seksi dana yang terus menggalang dukungan, seksi pembangunan yang rutin melakukan pengawasan di lapangan, hingga sekretaris, bendahara, dan panitia lainnya yang bekerja secara sukarela tanpa pamrih.

"Saya juga menyampaikan apresiasi kepada para pihak yang berperan di balik layar, termasuk relawan seperti Niko Kasan, yang memiliki kontribusi besar dalam kelancaran pembangunan sekolah tersebut. Dari hati yang paling dalam, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh donatur, panitia, relawan, dan semua pihak yang terlibat sejak awal hingga hari peresmian ini,” pungkasnya.