Pimpinan Pondok Pesantren Dar Aswaja Usman Syaufi. Foto: Surya/Riau1.
RIAU1.COM -Pengembangan pondok pesantren (ponpes) ke Kota Pekanbaru merupakan langkah besar yang penuh tantangan. Pembukaan ponpes ini sekaligus bagian dari upaya memperluas akses pendidikan keagamaan.
Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Dar Aswaja (Dar Ahlussunah Waljama'ah) Usman Syaufi di Jalan Labersa, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru, Sabtu (11/4/2026), mengungkapkan, langkah membuka cabang dari daerah ke kota merupakan hal yang tidak lazim. Namun, pihaknya berupaya “melawan arus” dengan menghadirkan pesantren dari kampung menuju perkotaan.
“Biasanya orang membuka cabang dari kota ke kampung, tetapi kami mencoba sebaliknya. Ini tentu bukan hal mudah. Namun kami optimistis dapat melewati tantangan tersebut,” katanya.
Usman berharap dukungan dari masyarakat dan Pemko Pekanbaru dapat memperkuat langkah tersebut. Sehingga, cita-cita pengembangan ponpes ini dapat terwujud.
Awalnya, Ponpes Dar Aswaja berdiri di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), tepatnya di Kecamatan Kubu Babussalam. Ponpes ini telah melalui perjalanan panjang dalam proses pembangunannya. Bahkan, pembangunan fondasi pesantren tersebut memakan waktu hingga sembilan tahun, yang dilakukan secara swadaya melalui infak, sedekah, dan wakaf.
“Fondasi dibangun selama sembilan tahun oleh orang tua kami. Saat itu kondisi masih sangat terbatas, tanpa listrik, tanpa air, dan akses jalan yang sulit,” cerita Usman.
Pada tahun 1997, pesantren tersebut mulai membuka pendaftaran santri baru dengan jumlah awal sebanyak 15 orang. Seiring waktu, jumlah santri terus meningkat dan mencapai sekitar 2.500 orang hingga kini. Ponpes ini sudah santri mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga perguruan tinggi.
Selain itu, Ponpes Dar Aswaja juga telah menjalin 13 kerja sama di berbagai daerah. Salah satu program unggulannya adalah pengabdian santri melalui kegiatan “Tsana Khidmah”, yakni penugasan selama satu tahun bagi santri tingkat akhir untuk mengajar di sejumlah wilayah, termasuk di Sumatera Barat (Sumbar) Sumatera Utara (Sumut), dan Kepulauan Riau (Kepri).
“Beberapa daerah bahkan datang langsung ke Kubu untuk meminta santri kami mengajar. Mereka rela menginap di pesantren sebagai bagian dari proses tersebut,” kata Usman.
Pengembangan pesantren ke luar Rokan Hilir, termasuk ke Pekanbaru, merupakan bagian dari cita-cita yang telah lama direncanakan bersama keluarga besarnya. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh tingginya minat masyarakat, termasuk tamu dari luar daerah hingga mancanegara, yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh untuk mengunjungi pesantren di Kubu, Rohil.